HIMA Pendidikan Ekonomi adakan Kajian Ahad Duha Online

ahad duha

Pamulang, Ditengah pandemik covid-19 yang melanda lebih 200 negara, membuat semua aktifitas yang bersifat rutinitas keseharian seakan lumpuh dengan sendirinya, mulai dari kegiatan perekonomian, bisnis, sampai dunia pendidikan, semua tidak dapat menghindar olehnya baik secara pribadi maupun kelompok, selain juga mengikuti protokoler pemerintah melalui kementerian kesehatan. Konon virus corona dapat menyebar melalui kontak langsung, maupun interaksi jarak dekat, protokal kesehatan telah mengeluarkan himbahuan agar menjaga jarak, pakai masker hingga cuci tangan secara rutin di air yang mengalir pakai sabun. Ini sekelumit dampak dan solusinya.

Namun, bukan berarti semua kendala dan cobaan tidak ada jalan keluarnya, melainkan semua diciptakan berpasang-pasangan. Oleh karena itu ditengah segala keterbatasan, Himpunan Pendidikan Ekonomi beberapa waktu yang lalu meyelenggarakan agenda rutin yang memang sudah ada dalam kegiatan-kegiatan yang HIMA rancang untuk 1 tahun kedepan. Acara rutin ini ialah kajian ahad duha online dengan menggunakan sarana Zoom sebagai teknologi pendukung kajian duha ini,

Kajian Ahad Duha ini diikuti oleh mahasiswa, HIMA, dan beberapa dosen Pendidikan Ekonomi. Acara ini diawali dengan pembukaan oleh Master Ceremony Bapak Heri Indra Gunawan, M.Pd., serta

dilanjutkan dengan sambutan yang dibawakan oleh Kaprodi Pendidikan Ekonomi Bapak Saiful Anwar, S.E., M.Pd.
Sebagai narasumber dalam Kajian Ahad Duha ini ialah Bapak Amanudin, S.Pd., M.M, dalam tausiah yang diberikan pada acara tersebut bapak Amanudin, S.Pd., M.M mengangkat tema mengenai QS. Ar-Rum ayat 41 “TELAH NAMPAK KERUSAKAN DI DARAT MAUPUN DI LAUTAN DIAKIBATKAN OLEH PERBUATAN TANGAN MANUSIA…….” Yang dikaitkan dengan wabah yang sedang melanda dunia umumnya dan Indonesia khususnya yaitu Covid-19. Serta dampak dari itu yang diterangkan dalam QS. Albaqoroh 155 “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

SABAR MENGHADAPI MUSIBAH
Sedikit pembahasan tentang tema diatas akan diuraikan sebagai berikut. Dalam situasi dan kondisi seperti ini kita sebagai warga negara yang baik mengikuti protokol pemerintah dengan tidak berkumpul, menjaga jarak, pakai masker, serta cuci tangan di air mengalir pakai sabun, tidak mudik dan aktifitas kerja, ibadah dilakukan dirumah, dengan tujuan untuk mencegah penyebaran virus korona, ini sebagai ikhtiar secara lahiriyah. Kita sebagai orang yang beriman harus bisa menerapkan minimal 5 hal dalam mensikapi wabah ini sebagai ikhtiar batiniah:
1. Saat wabah menimpa, harusnya semakin rajin melaksanakan shalat, bukan justru meninggalkannya. Sabar senantiasa disandingkan dengan sholat. karena keduanya adalah bekal untuk menangani segala urusan. Menurut tafsir Jalalain, mintalah pertolongan dalam menghadapkan urusan atau kesulitan-kesulitanmu dengan bersabar dan menahan diri dari hal-hal yang tidak baik dengan sholat. Khususnya disebutkan di sini untuk menyatakan bagaimana pentingnya sholat.
2. Untuk pulih dari wabah corona harusnya bukan memborong persediaan makanan untuk antispasi lockdown, hingga persediaan menipis karena serakah. Justru sebaiknya semakin giatlah berbagi karena sedekah itu kata Rasulullah ﷺ dapat menolak bencana wabah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).” (Riwayat Imam Thabrani). Bencana selamanya takkan bisa mendahului sedekah, Rasulullah ﷺ bersabda : “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah.” (Riwayat Imam Baihaqi). Sedekah bukan hanya menolak bencana, bahkan ia bisa menjadi benteng dari panasnya Neraka, sebagaimana sabdanya; “Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma.” (Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim) Bahkan sedekah itu dapat meredakan kemarahan Allah, dan mengurangi kesakitan saat sakaratul maut. Sebagaimana disebutkan Dalam buku Fiqh as-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, dimana Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Sedekah meredakan kemarahan Allah dan mengurangi kepedihan saat sakratul maut.” Sedekah bukan hanya menaungi dari penyakit, sedekah bahkan menaungi di hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda; “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (Riwayat Imam Ahmad).
3. Bersikap Tenang
Untuk menghadapi wabah corona harusnya bukan panik, tapi tetaplah bersikap tenang karna sikap tenang dan itu sifat orang mukmin sejati.
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)
4. Seberat apapun bentuk musibah dan ujian sabar ia harus diupayakan sebab ia bukti dari kebenaran iman. Yang paling bersabarlah, yang paling benar imannya.
“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 177)
5. Doa adalah senjata terbaik bagi seorang mukmin dalam menghadapi kondisi sulit, karena itu Rasulullah ﷺ memerintahkan dalam haditsnya. “Mintalah perlindungan kepada Allah dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang menghimpit, takdir yang jelek dan kegembiraan musuh atas kekalahan.”

Demikian sekelumit kajian dhuha yang telah dilaksanakan oleh HIMA Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang. Benar adanya firman Allah di surat Albaqoroh 155 tersebut diatas, kita diuji dengan ketakutan hingga semua orang takut ber-interaksi, bersosialiasi sampai akhirnya mengkarantina diri. Aktifitas kerja terganggu hingga kurangnya pemasukan berakibat kurang maksimal atau bahkan tidak dapat untuk membeli kebutuhan pokok yang imbasnya adalah kelaparan merajalela. Harta yang ada dibuat untuk menutupi selama pandemik tentunya semakin berkurang. Wabah yang semakin meluas berakibat jiwa manusia semakin terganggu secara psikologis. Dan cobaan lainnya kurangnya produksi buah-buahan ini akibat produksi pertanian yang tidak berjalan dikarenakan unsur manusianya mengkarantina diri bahkan sampai lockdown. Doa dan permohonan kita semoga wabah ini lekas berlalu, sehingga kita semua dapat ber-aktifitas normal sebagaimana biasanya, tentunya dalam keadaan sehat wal-afiat.
Amanudin01795.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *